Text 3 Jul Dunia Gambar Diam

Di dunia maya, identitas seseorang bergantung kepada teks dan gambar *suara juga, tapi masih belum umum*. Tidak ada media yang bisa menyampaikan pesan non-verbal kepada audiens. Jadi, apa yang ditulis dan diunggah ke dunia maya hampir pasti merupakan representasi diri sendiri. Apalagi jika konsisten dilakukan.

Dari sini, agak lucu ketika seseorang yang dengan konsisten mengepos tulisan / gambar ke dunia maya menyanggah apa yang direpresentasikan oleh tulisan dan gambarnya. Contoh, seseorang tiap saat meng-tweet status galau atau meretweet tweet2 yang bernada galau. Atau seseorang yang tiap jam mengganti status BBM dengan kata2 yang bernada pedas, seakan2 ditujukan ke seseorang tapi #nomention. Ketika ada yang merespons, ‘lw galau ya?’, kemudian disanggah, dengan alasan apa yang di-tweet / dipos tidak serta-merta mencerminkan dirinya / keadaan dirinya saat itu.

Apa maksudnya? Bagaimana audiens bisa menangkap maksud lain dari tulisan / gambar yang secara konsisten ia pos ke dunia maya? Jangan minta audiens untuk menganggap dirinya orang yang berhati halus jika hal-hal yang ia sampaikan ke audiens adalah hal-hal bernada galau.

Subjektif? Memang. Tapi setidaknya bertanggungjawablah terhadap apa yang dikatakan. Sampaikan yang memang mewakili diri sendiri. Dunia tanpa komunikasi non-verbal sangat rentan akan miskomunikasi, akan lebih baik jika kata / gambar yang dipos ke dunia maya lebih dipertimbangkan.


Design crafted by Prashanth Kamalakanthan. Powered by Tumblr.